Guru: "Baiklah, kalian harus belajar dari kegagalan, karena kegagalan adalah guru yang terbaik." Murid: "Bukannya pengala...
Guru: "Baiklah, kalian harus belajar dari kegagalan, karena kegagalan adalah guru yang terbaik." Murid: "Bukannya pengalaman, pak?" Guru: "Oh iya, maksudnya pengalaman kegagalan." Murid: "..." *Hening*
Iya masih mending sih bukan bapak yang jadi guru terbaik.
Perbincangan di warung kopi bareng temen yang abis pulang ngajar anak desain... Si Anu: "Boy, motor lo itu siapa yang ngedit dah? ...
Perbincangan di warung kopi bareng temen yang abis pulang ngajar anak desain... Si Anu: "Boy, motor lo itu siapa yang ngedit dah? Boleh juga." Temen: "Gue lah, tapi gak pake photoshop!" Si Anu: "..."
Ah, pasti motornya masih edit juga. *itu kredit* *terserah!*
Si anu: "Eh, lo tau gak sih? Indonesia tuh gak akan pernah maju selagi rakyatnya gak punya karakter dan gak tau apa kinswekwensi dari...
Si anu: "Eh, lo tau gak sih? Indonesia tuh gak akan pernah maju selagi rakyatnya gak punya karakter dan gak tau apa kinswekwensi dari setiap perbuatan yang dilakukannya!"
Gue: "Indonesia gak akan pernah maju selama masih ada rakyatnya yang ngomong konsekuensi jadi kinswekwensi!"
Gue yakin, dia pasti selalu sarapan pake konjugasi uduk!
--> ... ... ... Pertandingan berlangsung menarik sebagaimana biasanya partai berkelas. Namun sayang berakhir imbang 1-1. Tidak ada ...
-->
... ... ...
Pertandingan berlangsung menarik
sebagaimana biasanya partai berkelas. Namun sayang berakhir imbang 1-1. Tidak
ada masalah selama pertandingan berlangsung. Masalah timbul ketika selesai
pertandingan. Gue tidur di mana.
Sejatinya, pihak Aremania
menyediakan tempat untuk bisa digunakan tidur di sekitar stadion yang terdapat
ruko-ruko di dalamnya, tapi penuh.
Opsi kedua adalah menginap di
sekretariat Arema yang berada di kota malang, namun jaraknya sangat jauh. Kalo
gue jalan kaki pada saat itu mungkin gue bisa terkena radang tenggorokan. Kok bisa yah?
Dalam situasi galau tak menentu seperti itu,
tiba-tiba gue dihampiri oleh seorang Aremanita yang naik motor.
“Mas, mau kemana? Mau ikut sama
aku aja? Tak anter ke mana saja deh.” mendadak ada yang menawar gue. Eh! Maksudnya dia
menawarkan gue tumpangan ke tempat mana saja yang aku suka. ihiy!
“Gak tau, mbak. Pengennya sih ke
sekretariat Arema yang di kota. Tapi jauh banget, ya?”
“Oh, iyo, yowis kebetulan, ayo
tak anter ke sana. Kebetulan rumahku sekitar situ. Bareng aja.” Saat itu entah
kenapa gak ada fikiran negative di otak gue sama sekali. Padahal bisa aja gue
dibawa ke sawah dan diperkosa asal-asalan. Ah, yang gue tau semua Aremania itu
baik-baik. Apalagi gue masih pake baju persija. Sedetik setelahnya, gue sambut
tawaran itu dengan suka cita.
“Mas, kalo gak salah kereta ke
Jakarta masih besok sore, toh? Terus mau ngapain di malang kalo gak
jalan-jalan? Sayang-sayang.” Si embaknya membuka obrolan tengah malam di atas
motor dengan kecepatan tinggi.
“Iya, mbak. Pengennya sih
jalan-jalan. Tapi mau kemana. Saya kan gak tau daerah sini.”
“Tak ajak muter-muter kota malang
malam ini mau gak? Stadion Gajayana atau Museum Brawijaya gitu? Deket kok dari
sekretariat Arema.” Gue ditawar lagi. Tapi masa iya gue bakal diperkosa
asal-asalan sih.
“oke deh, mbak!” gue menyetujui
tawaran embaknya yang kemudian dinamakan Riri. Kapan lagi keliling kota malang
malem-malem, gratis pula. Diperkosa atau enggak, urusan nanti.
Alhamdulillah, pertama-tama, marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehing...
Alhamdulillah, pertama-tama,
marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan
karunia yang telah diberikan sehingga saya pada akhirnya dapat melaksanakan
umroh, walaupun hanya ke malang. *sigh*
Pertanyaan pertama dari seorang
teman yang muncul ketika gue berniat untuk melangsungkan ibadah tersebut adalah
“Elo mau ngapain ke malang? Kurang kerjaan!”
“Lah, emang kurang kerjaan, kan
gue lagi nganggur.”
“owh, pantes!” dijawabnya dengan
tatapan ‘mampus-siapa-suruh-hidup-dijakarta’.
Satu hal yang patut disyukuri
ketika kamu menjadi seorang pengangguran adalah, kesempatan untuk melakukan
banyak hal yang sebelumnya belum pernah kamu lakukan. Jika sebelumnya kamu
tidak bisa fokus bermusik, bermusiklah! Jika sebelumnya kamu tidak bisa
selingkuh, selingkuhlah!
Terkadang, gue malah pengen
seumur hidup gue nganggur dan melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan
bilamana kita bekerja menjadi seorang karyawan. Bekerja itu membosankan. Ah,
andai uang tidak pernah ditemukan.
… …
Suatu ketika, gue mendengar
seorang teman yang berkata bahwa dia
adalah seorang hooligan Manchester United. Gue yang pada saat itu sedang
makan bakwan, mendadak tersedak!
Berani benar teman gue itu
berkata demikian, kalo ketemu orang inggrisnya asli pasti diketawain. Memang
sudah berapa kali dia nonton langsung di Old Trafford? How many liverpudlian’s
asses he’s kicked already?
Iya, gue juga hanya bisa tertawa
meskipun gue bukan orang inggris asli.
Itulah, betapa hebatnya tim-tim
sepak bola inggris melakukan marketing dan ‘brain-washing’ bahwa tim-tim mereka
adalah yang terbaik. Padahal, hanya Liverpool saja lah yang bisa dibilang
lumayan prestasinya di tingkat eropa sejak zaman om dulu. Dan Manchester
United? Yak elah, baru sukses tahun 1998. *digebok fans MU* :D
Sebagai warga Negara Indonesia
yang kalo nonton presidennya sedang berpidato justru ngantuk, gue bangga sama
tim lokal ibu kota. Persija!
Bagi sebagian warga ibu kota
(yang gak suka bola), Persija dengan The Jakmania-nya hanyalah sekumpulan
supporter yang cuma bikin macet Jakarta, rusuh, dan selalu bikin onar. Sekali
lagi gue bilang, itu bagi orang yang gak suka bola. Mungkin mereka terlalu
sinis dalam menjalani hidup, atau mungkin mereka belum mengenal FPI. Atau,
mereka butuh menjadi seorang pengangguran.
Ini apa hubungannya umroh ke malang sama sepak bola, yah?
Menulis cerita yang terlewat ketika sebuah idealisme tersayat oleh sebuah fanatisme dunia yang penat dan seolah sekarat menentang kuasanya...
Menulis cerita yang terlewat
ketika sebuah idealisme tersayat oleh sebuah fanatisme dunia yang penat dan
seolah sekarat menentang kuasanya. Sudah lama saya ingin berbagi referensi
musik dan menceritakannya ke dalam sebuah hamparan tulisan yang semoga bisa
mengubah dogma akan terkenal tidak akan membuat kamu keren. Adalah suatu hal
yang sangat manusiawi jika seorang manusia berpaling ke suatu hal yang tidak
logis, yang sudah muak akan apa yang muncul belakangan ini, kemudian mencari
cara bagaimana menjalani hidup agar tidak lagi basi, monoton, apatis, dan
skeptis. Bagaimana jika hanya ada aktivis? Ah, pasti jadi lebih dramatis.
Tentu bukan suatu kebetulan, atau
nasib baik, mungkin dicampur dengan animo perasaan jika pada sebelumnya kamu
berfikir untuk menjadi anggota boyband, lalu suatu saat kamu berubah fikiran
dan tertarik untuk ngeband.
Setelah kurang lebih 1,5 tahun
saya bekerja disuatu institusi yang tidak ingin disebutkan namanya, beragam
kenangan pun bermunculan seiring dengan munculnya musik-musik dengan sound aneh. Pekerjaan yang membuat saya
berfikir bahwa saya [memang] tidak bisa hidup terlepas dari musik, meskipun
kerjaan yang saya geluti termasuk dalam dunia pendidikan. Dope? I guess it is.
Layaknya seorang pesakitan yang
selalu membutuhkan insulin, musik juga bisa berperan sebagai pengganti insulin
bagi para pesakitan yang berandai-andai jika suara angin yang kita dengar
setiap hari bisa diganti dengan suara rintihan mogwai atau pink Floyd, dan mengganti
hiruk pikuk Jakarta dengan kebisingan The vaccines sehingga kita tidak lagi
memerlukan iPod. Kita memang tidak butuh iPod, terlebih jika di dalamnya hanya
ada pathetic-psychedelic songs in which so-called lagu menye-menye.
Saya tidak tau apa yang membuat
saya seperti itu. Iya, mungkin saya sudah ‘sakit’. Sakit akan bagaimana membuat
para mahasiswa merasa melek, rileks, dan sadar bahwa sex tidak bisa mengganti
gairah belajar. Merasa tertantang untuk memberi-dengarkan musik yang mereka
mungkin belum dengar, membuat saya bergairah. Tidak hanya tuntutan akan nilai,
nilai, dan nilai. Lebih dari itu, dunia membutuhkan sesuatu yang lebih rill dengan cara men-drill gairah yang ada pada diri
masing-masing. Kita hanya perlu mencari tau dan mencari cara bagaimana membuat
hidup kita selalu ‘horny’ setiap saat.
Menilik bagaimana orang-orang
kebanyakan menganut kalimat “Bermimpilah setinggi langit”, maka saya lebih suka
mengubahnya menjadi “Andai kita semua bermain dalam film Inception”. Manipulasi
tak hanya terjadi di dunia nyata, mimpi yang kita impikan pun seharusnya bisa
dimanipulasi sekalipun tanpa masturbasi dan kopulasi. Tak perlu bertanya
bagaimana Bottlesmoker bisa menginvasi Malaysia dan singapura hanya dengan musik
‘gratis’-nya. Tak juga perlu terlalu berat memikirkan bagaimana Goodnight
Electric dikenal di jerman. Musik apapun yang kamu buat, seaneh apapun itu,
pasti ada yang mendengarkan. Serendah apapun harga yang kita tawarkan akan
dinilai tinggi oleh “yang maha kuasa”. Tak hanya sekedar harga yang kita
tawarkan, namun seberapa besar value akan kualitas diri yang bisa kita buat
tanpa membuat pencitraan positif layaknya aparatur Negara. Sudah ada yang
menilai kita. Siapapun itu.
Mungkin terdengar agak sedikit overrate, tapi ini tidak manipulate. Mungkin ini bigot, tapi bukan abbot.
34312548758 detik menjelang tahun baru 2012. Mengingat kembali resolusi-resolusi yang gue canangkan pada awal tahun 2011 ini: lulus, ...
34312548758 detik menjelang tahun baru 2012.
Mengingat kembali resolusi-resolusi yang gue canangkan pada awal tahun 2011 ini:
lulus,
wisuda,
kerja,
married,
punya anak,
selingkuh,
makan kecapi, dan
Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.
Alhamdulillah...
Resolusi gue yang pertama, kedua, dan ketiga tercapai.
Seneng? Enggak! Yaiyalah, pake nanya!
Resolusi nomer 4, 5, 6 abaikan saja.
Lho mana saya?! Saya yang ngambil foto.
Seorang teman berkata 'Wow, udah lulus. Hidup kita jadi lebih serius nih!'
Iya, gue pun setuju dengannya. Namun tetap, bukan berarti kita sudah tidak bisa bersenang-senang lagi. Umur adalah angka, muda adalah selamanya, dewasa nyusul.
Yak, tiba-tiba saat itu gue menemukan motto hidup yang berserak lainnya. Saat itu juga mendadak gue ingat ucapan teman sewaktu jaman SMA dulu. Dia bilang bahwa jika kita nanti telah lulus kuliah lalu kerja, dan umur kita semakin bertambah, sudah tidak ada lagi pikiran untuk berselingkuh. Kita akan memikirkan hal lain yang dirasa lebih "pantas". Maka ber-selingkuh-lah selagi masih bisa. Teman saya yang satu itu memang terkenal playboy cap kaki tiga. Pernah gue tulis juga.
Whoaaa! Life has never been this tough since there's sort of obligation to be a pervert perfect person in society!
... ... ...
Resolusi nomor 7 memang agak kurang luhur. Belakangan gue dengar, kecapi sudah tidak lagi di makan, tapi di petik dan di mainkan. Ini salah. Harusnya di petik dulu lalu di makan. Bukan di petik lalu di mainkan dan keluar suara merdu. Emang burung kutilang!
That's different Kecapi, you idiot! *self-toyor*
Resolusi terakhir yang sebenarnya gak direncanain sama sekali di awal tahun 2011 ini adalah... Naik Gunung. Gunung Gede. Gede Abis!
Sebelumnya, mungkin ada yang belum tahu dimana itu letak gunung gede? Berapa tingginya? Se-gede apakah ia sehingga dinamakan Gede? Gedean mana antara gunung gede dan gunung vicky vette? dan sebagainya. Well, googling m8!
Jadi, cerita bermula ketika Imel, salah seorang teman yang memang udah gue kenal sejak SMP mengajak untuk menghabiskan libur akhir tahun di puncak gunung. Sedetik setelahnya, gue IYA-kan tanpa pikir panjang.
Setelah mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebagai pembekalan selama disana, kami berangkat dari Ciputat dengan beranggotakan 5 orang laki-laki tangguh setangguh Marcopolo sekitar pukul 8 malam menggunakan bis. Butuh sekitar 3 jam perjalanan untuk mencapai kesana.
Gunung Putri. Sebenarnya, ada 2 rute yang bisa digunakan untuk mendaki. Yang pertama naik dari jalur Cibodas, dan yang kedua dari gunung putri. Kita pilih opsi yang kedua. Tidak ada alasan yang pasti kenapa kita memilih jalur tersebut. Gue sih gak tau. Konon katanya jika kita naik dari jalur gunung putri dan turun di Cibodas, lebih mudah untuk mendapatkan kendaraan untuk pulang nantinya.
Tiba disana, sekitar pukul 1 malam.
Sebelum melakukan pendakian ada baiknya kita mengisi perut terlebih dulu, karena perjalanan untuk mencapai ke Surya Kencana (Dataran seluas 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl ) membutuhkan 5 jam perjalanan.
Yang coklat kelas berat. Saya mah gak gak gak kuat!
Sungguh, mendaki malam adalah berarti men-dobel-kan tantangan. Selain jarak dan udara dingin, rasa kantuk pun harus kita lawan. Di jam-jam yang mengharuskan tubuh untuk beristirahat total, justru kita menggandakan kerja tubuh berkali-kali lipat. Sesuatu banget. Untung gak ujan. Kalo ujan, basah deh! Shimizu kali ah!
Sekitar jam 6 pagi kita baru mencapai ketinggian 2.500 m. dpl. Itu berarti masih ada 1/4 kilometer lagi untuk ditempuh untuk mencapai Surya Kencana.
Jalannya belom di aspal
Becanda dikit biar gak ngantuk
Gelap. Bahkan sarung tangan kita yang notabene berwarna putih pun gak keliatan.
But... It's all paid back!
5 jam perjalanan sudah termasuk pajak capek, lelah, dingin, ngantuk, kita lalui tanpa terasa sampai pada akhirnya tibalah kita di Surya Kencana. Ini pemandangan beneran seperti apa yang gue pernah lihat di tivi-tivi. Anjrit, keren abis!
Gue kira hamparan savana yang beginian cuma ada di Teletubies. Udara pada saat itu sekitar 10 derajat Celsius. How did I know? I can feel it in my bones. Therefore, I can't stop smoking. Actually, us can't stop smoking except Imel, the guy I told you before. He said his lungs are still virgin.
Diatas awan
Tinky winky mana Tinky winky!!!
Mencari Tinky winky
Kita mendirikan tenda di sekitar pohon arbey. Asli, tempat ini adalah seperti tempat yang di ceritakan di Al-qur'an (sory agak lebay)...
Buah tinggal petik, ada mata air yang mengalir, udara sejuk, cuma gak ada bidadari aja yang menemani. Sayangnya gue lupa kalo kawasan itu masih cakupan wilayah Indonesia, jadi tetep aja banyak sampah. Gak di kali gak di gunung. Miris.
Pohon Arbey
Buahnya
sampahnya
Dan foto gue yang tadi diatas adalah terakhir kalinya gue terkena matahari, selebihnya hanyalah kabut, kabut, kabut, makan, makan, makan. Untung ada koki yang katanya masih temennya Farah Quinn. Wow!
awas cinlok!
San Sori, bukan San Siro.
Tidak banyak hal yang bisa kita lakukan di sana. Karena bete, udah aja gue puter lagunya Sir Dandy yang Juara Dunia.
Pada ketawa. Katanya lagu pelo. Nah loh! Tapi saya suka.
Berarti saya... *some text missing*
... .... ...
Keesokan harinya, perjalanan kita berlanjut untuk menuju ke Puncak Gede diteruskan pulang. Naik, abis itu langsung turun. 7 jam aja. Take off dari tenda sekitar jam 11 dan sukses landing di Cibodas selepas maghrib. Melipir.
Jika saat menuju Surya Kencana tantangan terbesarnya adalah melawan rasa kantuk. Maka ketika turun, tantangan terbesarnya adalah hujan, hingga tidak memungkinkan untuk foto-foto. Iya hujan!!! *diulang biar berasa horor*
Kau-ah
Masih bisa pose begini, liat aja ntar pas pulang.
The team
Dapet temen baru, tidak untuk pacar baru.
Pose "lebih baik aku mati saja"
Saya rasa Ibu Soed gak pernah naik gunung.
Maaf ya, buk. Lagu Naik-naik ke puncak gunung harusnya dimainkan dengan tempo yang tidak gembira karena naik gunung itu capek, melelahkan, butuh persiapan matang, dan bikin kaki saya keseleo, buk!